ベランダ

Tampilkan postingan dengan label All About Japan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Japan. Tampilkan semua postingan

31 Des 2011

Persiapan Jepang Menyambut Tahun Baru

Hari pertama di tahun baru bisa dibilang hari libur yang paling penting dan paling sakral di kalender Jepang. Sebagian besar orang benar-benar menutup jadwal kerja mereka selama beberapa hari agar mereka dapat kembali pulang ke kampung halaman untuk menghabiskan waktu dengan keluarga besar mereka.

Berikut adalah tiga tradisi terbesar dalam tradisi perayaan menyambut tahun baru di Jepang...

1. Satogaeri

Alat-alat transportasi masal seperti pesawat terbang, kereta api dan bus akan sangat sibuk di akhir tahun dan awal tahun baru. Kenapa? Karena banyak orang Jepang yang mudik. Yup, satogaeri artinya pulang kampung. Sama seperti di Indo, jangan harap bisa mendapatkan tempat yang nyaman jika mau berpergian di hari-hari super sibuk seperti ini.

2. Hatsumode

Hatsumode, sembahyang orang Jepang

Hatsumode adalah tradisi sembahyang di kuil pada hari pertama di tahun baru, meminta para dewa menjaga kesehatan keluarga mereka dan memberikan rejeki yang melimpah. Ratusan ribu orang akan memadati kuil-kuil Shinto/Buddha pada tanggal 31 Desember. Lonceng akan dibunyikan tepat pada tengah malam yang menandakan Jepang telah masuk ke lembaran baru.

3. Osechi

Tahun baru tidak akan ada artinya jika tidak ada hidangan enak di ruang makan keluarga. Maka, disiapkanlah osechi. Tidak perlu yang mewah-mewah, yang penting ada. Osechi adalah hidangan laut seperti ikan, udang dan sedikit sayur-sayuran yang disajikan di dalam kotak makanan, mirip kotak bento tapi bukan, melainkan kotak jubako yang disusun bertingkat-tingkat.

Secara tradisi, osechi dimakan saat sarapan pagi, makan siang dan makan malam selama tiga hari berturut-turut. Tapi di jaman modern ini, banyak keluarga yang makan osechi di satu hari saja.

Osechi, hidangan tahun baru orang Jepang

18 Sep 2011

10 Kebiasaan Orang Jepang yang Mebuahkan Kesuksesan


Mendengar kata 'Jepang' pasti yang tersirat adalah kemajuan dan ilmu teknologinya yang maju. Namun di balik semua itu, Jepang mempunyai tradisi turun temurun yang sekiranya pantas untuk ditiru (wajib ditiru). Di sini ada beberapa tradisi warga Jepang yang diwariskan kepada anak cucu mereka yang membuat mereka hebat dalam segala hal.

1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini.

7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Saat Bunga Cherry Mekar Di Kanazawa

Terlambat datang ke pesta bunga cherry? Pergilah ke arah utara ke Kanazawa, Sendai atau Hakodate.

Saat Bunga Cherry Mekar di Kanazawa

Untuk melihat bunga cherry Jepang pada saat musimnya membutuhkan sedikit rencana dan banyak keberuntungan: tidak peduli seberapa banyak artikel yang kamu baca atau kabar terbaru yang kamu ikuti, cuaca dingin yang tiba-tiba datang atau cuaca panas bisa terjadi dalam seminggu atau bahkan lebih. Bunga cherry di Jepang paling terkenal di wilayah Tokyo dan Kyoto yang habis musimnya pada awal April.

Jadi jika anda datang terlambat di pesta daun bunga, anda harus berpikir menuju ke utara!

Bunga Kanazawa

Bunga Cherry akan mekar sedikit terlambat di kota bagian utara Jepang seperti Sendai atau Hakodate ini karena iklim di sana yang lebih dingin. Pilihan bagus lainnya untuk menikmati bunga cherry saat pertengahan-April adalah di Kanazawa, yang berlokasi di barat laut Tokyo di laut Jepang. Kota modern dengan beberapa wilayah bersejarah, tujuan utama di Kanazawa adalah istana Kanazawa dan Kenrokuen, yang merupakan salah satu dari tiga taman terbaik di Jepang dan wilayah yang bagus untuk menikmati hamparan bunga cherry.

Saat Bunga Cherry Mekar di Kanazawa

Menuju Kanazawa dari Tokyo sangat mudah dengan menggunakan kereta ekspress Jepang, Shinkansen. Naik Joetsu Shinkansen dan berlanjut naik ekspres yang agak terbatas di Echigo-Yuzawa, dengan lama perjalanan sekitar empat jam. Kanazawa bahkan lebih dekat dengan Kyoto dan Osaka, hanya sekitar dua jam dengan kereta ekspress tersebut. Untuk menghemat biaya perjalanan ke Kanazawa bila anda berangkat dari Tokyo, anda dapat menggunakan bis dari Shinjuku atau Ikebukuro, meskipun waktu perjalanan anda akan lebih lama.

Taman yang paling terkenal di Jepang, Kenrokuen, telah dibangun sejak 1774. Taman ini terlihat cantik di setiap musim, ditambah lagi dengan warna bunga cherry pada musim panas semakin menghidupkan taman yang susah payah dibentuk itu. Sederet pohon dekat pintu masuk taman dan dekat istana Kanazawa merupakan lokasi yang bagus untuk difoto, tetapi untuk pesta bunga cherry Jepang yang sempurna, pesta hanami harus dicoba. Selama perjalanan anda menuju taman, mampirlah ke pasar keluarga, Sunkus, atau toko yang nyaman lainnya untuk persediaan makanan apda Asahi Super Dry dan makanan ringan untuk pesta dadakan di taman.

Di samping hamparan bunga-bunga pink, areal sebesar 25 hektar di taman Kenrokuen juga menyediakan semua yang kamu inginkan. Lentera batu, lukisan jembatan, pagoda agung dan masih banyak pajangan lainnya. Sebelum mengalami perkembangan yang pesat, Kenrokuen awalnya adalah taman Istana Kanazawa, dan meskipun bangunan yang saat ini adalah rekonstruksi, istana itu masih dekat dan memiliki pemandangan yang mengesankan.

Tempat Alternatif Lain


Saat Bunga Cherry Mekar di Kanazawa

Selain taman Kanazawa masih ada macam-macam tempat seperti area Nagamachi, yang telah dibangun kembali untuk menampilkan bagaimana samurai Kanazawa hidup. Beberapa rumah seperti Nomura House adalah bangunan yang asli, dan sepanjang area itu merupakan pemandangan indah Jepang tempo dulu. Area Higashi-Chaya adalah tempat lain yang menarik, pernah menjadi pusat dunia geisha Kanazawa dan sekarang direnovasi menjadi area yang romantis untuk menikmati segelas teh hijau. Tempat yang modern juga tersedia disana dengan kualitas sama bagusnya, dengan mengadopsi gaya arsitektur dari Museum Seni Kontemporer abad 21 dan stasiun Kanazawa yang menawarkan secara sempurna perbedaannya dengan area bersejarah Kanazawa.

Meskipun menuju Kanazawa bisa dilakukan dalam sehari dari Kyoto atau Osaka, keberangkatan dari Tokyo perlu berhenti untuk menginap, sedikitnya semalam untuk membuat perjalanan jadi lebih menarik. Untuk lebih mengenal sejarah Kanazawa, menginap di tempat penginapan gaya tradisional Jepang seperti Nakayasu Ryokan bisa menjadi pilihan yang tepat, tetapi biaya yang disukai seperti penginapan Dormy dan penginapan Totoko cukup mewakili. Pilihan unggulan kami untuk hotel di Kanazawa adalah Hotel Tokyufor yang harga dan kenyamanannya sebanding.

Tempat Menarik Lainnya

Sendai: Ibukota Miyagi Prefecture dan didirikan oleh panglima perang samurai terkenal date Masamune, yang juga terkenal sebagai “naga bermata satu,” bunga Cherry Sendai biasanya bermekaran selama minggu ketiga di bulan April.

Hakodate: Bunga-bunga pelabuhan ujung selatan Hokkaido ini biasanya mencapai puncak musimnya, bersamaan dengan kota terbesar Hokkaido Sapporo pada awal bulan Mei.

6 Sep 2011

Yoshihiko Noda, Perdana Menteri Jepang Yang Baru

Apa saja yang terjadi di Jepang pada minggu lalu saat kita sedang pergi liburan?

Naoto Kan, Perdana Menteri Jepang, telah mengundurkan diri sebagai kepala pemerintahan karena rakyat Jepang kecewa terhadap kinerjanya dan caranya menangani pemulihan bencana gempa/tsunami raksasa Maret lalu.

Sekarang Jepang telah memiliki Perdana Menteri yang baru, yaitu Yoshihiko Noda, yang sebelumnya menjabat sebagai menteri keuangan. Noda mewarisi sebuah pekerjaan rumah yang sangat melelahkan; bencana alam, krisis ekonomi dan kekurangan bayi.

Yoshihiko Noda, Perdana Menteri Jepang Yang Baru

Yap. Jepang memang sedang dalam gonjang-ganjing kebingungan. Bayangkan, dalam 5 tahun terakhir, Jepang telah mengganti perdana menteri sampai 6 kali (Noda yang ke-6). Ini berarti rata-rata usia jabatan seorang perdana menteri Jepang kurang dari 1 tahun.

Sementara itu, pada tanggal 1 September lalu, Jepang mengadakan pelatihan penanganan bencana alam secara massal. Lebih dari 500.000 orang di seluruh Jepang, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa, turut serta dalam pelatihan "Disaster Prevention Day" atau "Hari Pencegahan Bencana" dalam memperingati gempa raksasa di Kanto pada tanggal 1 September 1923 yang menewaskan 100.000-140.000 jiwa.

Disaster Prevention Day, Jepang

TEPCO, perusahaan listrik yang terkena bencana, telah mengumumkan bentuk kompensasi yang akan diberikan kepada para keluarga korban musibah PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Fukushima.

TEPCO akan memberikan ¥120.000 (sekitar Rp.12 jutaan) kepada lebih dari 400.000 kepala keluarga per bulan terhitung dari Maret sampai masalah radiasi ini benar-benar teratasi. TEPCO juga akan mengganti 100% gaji yang hilang sejak bulan Maret, ¥8000 (sekitar Rp.800 ribuan) untuk akomodasi per malam, ¥8000 untuk cek ke dokter per kunjungan, serta banyak lagi.

29 Agu 2011

Takeuchi Matsuri – Festival Perang Bambu

Takeuchi Matsuri – Festival Perang Bambu


Takeuchi Matsuri atau festival perang bambu baru saja diadakan di Rokugo, prefektur Akita.

festival perang bambu di jepang

Festival Takeuchi telah menjadi festival yang populer untuk waktu yang lama sebagai festival api dimana orang-orang kota berdoa untuk hasil panen yang baik dalam serangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Ini adalah festival yang cukup liar dimana orang-orang bertarung dengan memukul satu sama lain dengan bambu panjang.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok, Utara dan Selatan, yang kemudian saling melawan. Jika pihak Utara menang, hal ini diyakini hasil panen beras akan melimpah. Tapi jika yang menang pihak Selatan, maka diyakini harga beras akan naik.

Seperti yang kamu bayangkan, dua kelompok besar saling memukul satu sama lain dengan tiang bambu, membuat festival ini dipandang cukup berbahaya. Sebuah mobil ambulans disiagakan untuk menangani yang cedera dan puluhan petugas polisi ikut berjaga-jaga untuk memastikan pertempuran itu terbatas pada tiang bambu.

Beruntung, Festival di tahun 2011 ini berakhir tanpa ada yang cedera serius.

12 Jul 2011

Kaisar Jepang Mengunjungi Para Pengungsi

Kaisar Jepang Mengunjungi Para Pengungsi


Kaisar Jepang dan istrinya mengunjungi sebuah tempat penampungan gempa dan tsunami baru-baru ini. Sebuah pemandangan yang amat sangat jarang terjadi dimana sang Kaisar berlutut di atas tikar untuk menghibur para pengungsi...

Kaisar dan Permaisuri Jepang

Ini adalah pertama kalinya sang Kaisar yang berusia 77 tahun, yang jarang terlihat di depan umum apalagi berhadap-hadapan langsung dengan warga biasa, melakukan kunjungan resminya ke daerah yang dilanda bencana kembar; gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu.

Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko berbicara dengan sangat pelan bersama para korban yang selamat, memberikan dukungan moril kepada mereka agar tetap bersabar dan pantang menyerah dalam menghadapi musibah ini. Tidak sedikit yang membungkuk dalam rasa syukur sambil menyeka air mata mereka.

Dengan berpakaian santai, pasangan berambut kelabu nan berwibawa ini mengunjungi dua tempat penampungan di Asahi, sekitar 55 mil dari kota Tokyo, menatap sedih pada tempat yang tadinya berdiri ratusan rumah tapi sekarang rata dengan tanah.

Hampir 140.000 orang telah kehilangan rumah mereka dalam bencana atau diperintahkan untuk tetap tinggal di tempat penampungan. TEPCO, perusahaan pembangkit listrik terbesar ke 4 di dunia, diperintahkan oleh pemerintah Jepang untuk segera memberikan ganti rugi sebesar 1 juta yen (atau sekitar Rp. 100 juta) untuk setiap kepala keluarga dan 750 ribu yen (atau sekitar Rp. 75 juta) untuk setiap individu yang terpaksa mengungsi dari Fukushima.

Uang ganti rugi tersebut baru tahap awal dari sekian banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh pihak TEPCO.

Tips Menghadapi Gempa Bumi Dengan Benar

Tips Menghadapi Gempa Bumi Dengan Benar



Tips Menghadapi Gempa Dengan Benar


Berikut tips menghadapi gempa bumi dengan benar:

Kalau kamu berada di rumah...
1. Berlindunglah di bawah meja. Hal ini bisa memberikan kamu ruang untuk bernapas jika bangunan runtuh. Jika meja-nya bergerak, cobalah untuk ikut bergerak mengikuti arah meja.

2. Sisi tembok atau tempat dimana kusen pintu berada adalah tempat terakhir yang akan runtuh. Jika meja tidak tersedia, berlindunglah disana.

3. Jauhi semua benda-benda pecah belah (jendela, cermin, lampu, lukisan, guci), rak buku, lemari, dan semua yang bisa jatuh.

4. Ambil sesuatu untuk melindungi kepala dan wajah kamu dari kemungkinan terkena puing-puing yang jatuh dan pecahan kaca.

5. Jika lampu mati, gunakan senter. Jangan gunakan lilin dan korek api selama atau setelah gempa. Jika ada kebocoran gas, ledakan dapat terjadi.

6. Jika kamu berada di dapur, cepat matikan kompor sebelum kamu berlindung di bawah meja.

Kalau kamu berada di gedung...
Jauhi jendela dan segera berlindung di bawah meja. Jangan pakai lift. Tidak perlu berebut lari keluar gedung ketakutan, apalagi sampe nginjak-nginjak orang lain yang terjatuh (kalau sudah waktunya, percuma lari-lari juga kan?).

Yang paling penting saat menghadapi gempa adalah mencoba untuk tetap tenang dan, tentu saja, berdoa.

Perkembangan Terbaru Pasca Bencana Gempa/Tsunami

Perkembangan Terbaru Pasca Bencana Gempa/Tsunami


Enggak kerasa kalau orang Jepang sudah melewati lebih dari 3 bulan yang penuh dengan penderitaan dalam hidup mereka. 3 bulan lamanya para penduduk di Fukushima, Miyagi dan Iwata tinggal di tempat penampungan, sedikit kelaparan, kekurangan obat dan tidak mendapatkan penghasilan.

Bagaimana berita perkembangannya? Kepolisian Jepang telah mencatat 15.421 jiwa meninggal dunia, 5.367 terluka dan 7.937 orang masih dinyatakan hilang. Lebih dari 100.000 orang masih tinggal di tempat penampungan, 125.000 bangunan rusak/hancur, sekitar 1,5 juta rumah tangga kekurangan air besih dan 4,4 juta kekurangan listrik.

Total kerugian mencapai 2.500 triliun. Bukan 2,5 triliun lho, tapi dua ribu lima ratus triliun. Jadi sebutnya 2,5 megatriliun aja ya.

Berikut foto-foto perkembangannya...

Pasca Bencana Gempa/Tsunami di Jepang

Pasca Bencana Gempa/Tsunami di Jepang

Pasca Bencana Gempa/Tsunami di Jepang

Pasca Bencana Gempa/Tsunami di Jepang


Hanya dalam waktu 3 bulan, sebagian besar puing-puing yang berserakan sudah menghilang. Cara kerja orang Jepang memang sangat efisien ya?

Anjing-Anjing Terkenal Dalam Sejarah Jepang

Anjing-Anjing Terkenal Dalam Sejarah Jepang


Mulai dari berburu di tengah hutan sampai memandu tuannya yang tuna netra berjalan-jalan di tempat umum, anjing telah menjadi sahabat terbaik manusia sejak zaman dahulu kala.

Berikut adalah anjing-anjing terkenal dalam sejarah Jepang, yang tubuhnya berhasil diawetkan dan dipajang di Museum Nasional dan Ilmu Pengetahuan Alam (国立科学博物館 / Kokuritsu Kagaku Hakubutsukan) di Tokyo...


1. Hachiko

Hachiko

Ini mungkin adalah anjing yang paling terkenal di seluruh Jepang. Terkenal karena kesetiaannya menunggu kedatangan sang majikan, Hidesaburo Ueno, di stasiun Shibuya selama 10 tahun lamanya, padahal majikannya telah meninggal dunia.

Kisah Hachiko telah diabadikan dalam buku anak-anak Jepang dan diadaptasi menjadi dua film. Ia dianggap sebagai pahlawan nasional dan patung perunggu-nya berdiri kokoh di stasiun Shibuya.

Ia dikabarkan mati pada tanggal 8 April 1935 setelah menelan tusuk sate ayam (yakitori) sehingga merobek perutnya. Tapi pada tahun 2011, tim dokter dari universitas Tokyo berkata lain. Mereka menyatakan bahwa Hachiko mati karena kanker.

[Baca postingannya disini]



2. Jiro

Jiro

Jiro adalah jenis anjing "Sakhalin Husky" atau "Karafuto-Ken" (樺太犬), anjing yang khusus dikembangbiakkan untuk menarik kereta luncur di es. Jiro menjadi terkenal karena dia bisa bertahan hidup setahun penuh di Antartika setelah ditinggalkan oleh tim ekspedisi ilmiah di Kutub Selatan.

Pada bulan Februari 1958, sebuah tim survei Jepang yang ditempatkan di Antartika meninggalkan pangkalan mereka. Berpikir tim survei yang baru akan segera datang, mereka meninggalkan 15 anjing Sakhalin Husky dengan cara dirantai. Namun karena ada perubahan rencana, tidak ada orang yang kembali selama hampir setahun. Ketika tim survei berikutnya kembali ke pangkalan pada Januari 1959, mereka menemukan dua dari 15 anjing tersebut, Taro dan Jiro, secara ajaib masih hidup.



3. Kai Ken

Kai Ken

Anjing jenis Ken Kai alias "Tora Inu" atau "Anjing Macan" dianggap orang Jepang sebagai anjing yang paling kuno jenisnya dan paling murni yang pernah dikembangbiakkan di Jepang. Dikembangkan pertama kali di dunia berabad-abad yang lalu di distrik terpencil Kai (prefektur Yamanashi), anjing jenis ini digunakan untuk berburu babi dan rusa di hutan belantara. Kai Ken ditetapkan sebagai harta nasional Jepang pada tahun 1934.



4. Serigala Honshu

Serigala Honshu
Serigala Honshu

Serigala Honshu (Canis lupus hodophilax atau Nihon Ookami) adalah salah satu dari dua spesies serigala yang telah punah di Jepang - yang satunya lagi adalah serigala Hokkaido.

Spesies ini, yang pernah menjadi rajanya anjing di pulau Honshu, Shikoku dan Kyushu, diperkirakan telah punah karena penyakit rabies dan pemberantasan yang dilakukan orang Jepang sendiri. Serigala Honshu yang terakhir diyakini telah mati pada tahun 1905 di prefektur Nara, meskipun tanggal pastinya masih diperdebatkan.

Maneki Neko / 招き猫

Maneki Neko / 招き猫


Jepang bisa dibilang sebagai negara kucing. Dimana-mana kita bisa melihat banyak segala sesuatu yang berhubungan dengan kucing. Mulai dari mainan, manga, anime, kafe yang disediakan khusus untuk para pencinta kucing, sampe kucing yang diangkat menjadi kepala stasiun kereta.


kucing jepang


Bagaimana sih sejarahnya kehidupan kucing di Jepang? Ayo kita telusuri.

Menurut kepercayaan, orang-orang Jepang mulai memelihara kucing sekitar tahun 1000-an. Adalah kaisar Ichijo (987-1011) yang pertama kali memperkenalkan kucing peliharaan kepada masyarakat Jepang setelah dia menerima utusan dari negeri China yang membawa kucing peliharaannya. Saat itu, tentu saja, hanya kalangan dari istana yang mampu memelihara kucing karena harganya yang sangat mahal.

Banyak yang menganggap kucing sebagai simbol keberuntungan, seperti para pemilik toko yang memajang Maneki Neko (招き猫 / kucing yang memanggil atau kucing yang mengundang). Banyak sekali orang yang salah paham dengan mengira Maneki Neko beasal dari China, padahal faktanya Maneki Neko berasal dari Jepang sekitar tahun 1870-an semasa era Meiji.


Maneki Neko JepangManeki Neko Jepang


Gambar di kiri adalah Maneki Neko yang ada di jaman modern, yang selalu digambarkan membawa Koban (koin emas dari jaman Edo). Jika dipajang di toko, dipercaya akan mengundang banyak pembeli untuk datang ke toko.

Sedangkan gambar di kanan adalah patung tua Maneki Neko yang terbuat dari kayu, yang berada di pasar Ofuna, Prefektur Kanagawa. Dibawah kaki kanannya terdapat sebuah palu godam yang bertuliskan Fuku (福) yang berarti keberuntungan atau kemakmuran.

Sedangkan bell yang menggantung di kalungnya adalah aksesoris yang biasa dikenakan oleh keluarga-keluarga kaya yang memelihara kucing pada jaman Edo.

Menurut sebuah survey di Jepang, sekitar 60% Maneki Neko di Jepang mengangkat kaki kirinya, 39% mengangkat kaki kanannya, dan hanya 1% yang mengangkat kedua kakinya. Kepercayaanya adalah kaki kiri dapat mengundang para pelanggan, sedangkan kaki kanan yang memberikan kekayaan.

Namun, seperti layaknya koin yang memiliki dua sisi berbeda, banyak juga yang percaya kalau kucing mengundang nasib buruk. Ada suatu masa ketika kucing dipercaya dapat berubah menjadi monster, namanya adalah bakeneko dan nekomata.

Klik disini untuk baca postingan mengenai bakeneko dan nekomata.

Lain waktu kita akan membahas mengenai kucing-kucing yang ada di Jepang


Maneki Neko Jepang

Prefektur-Prefektur Di Jepang

Prefektur-Prefektur Di Jepang


Kata "prefektur" pertama kali diciptakan oleh bangsa Romawi untuk menamakan sebuah wilayah yang mempunyai pemerintahannya sendiri (seperti pemerintah daerah), kira-kira seperti provinsi yang dipimpin oleh gubernur di Indonesia.

Di Jepang sendiri kata prefektur sebenarnya tidak ada, melainkan Todofuken, yang ditetapkan oleh pemerintahan Meiji pada tahun 1868 dengan sistem haihan-chiken (廃藩置県), sistem yang membagi-bagi pemerintahan daerah menjadi lebih dari 300 prefektur.

Karena jumlah yang besar ini dinilai terlalu ribet, banyak wilayah dimerger (digabung) yang kemudian menjadi 72 pada tahun 1871, lalu dirubah lagi menjadi hanya 47 pada tahun 1888 sampai sekarang.


Prefektur-Prefektur Di Jepang


Lambang-Lambang Prefektur Di Jepang

Nishiyama Onsen Keiunkan, Hotel Tertua Di Dunia

Nishiyama Onsen Keiunkan, Hotel Tertua Di Dunia

Ternyata hotel tertua di dunia ada di Jepang.

Karena zaman dulu belum ada pengertian kata hotel, mungkin akan lebih tepat kalau kita sebut sebagai tempat penginapan ya? Nama tempat penginapan tersebut adalah Nishiyama Onsen Keiunkan yang terletak di Prefektur Yamanashi. Diresmikan pertama kali pada tahun 705, Nishiyama Onsen Keiunkan juga termasuk perusahaan tertua ketiga di Jepang.

Nishiyama Onsen Keiunkan, Jepang

Presiden direktur saat ini, Yuji Fukazawa mengatakan bahwa dia sangat ingin hotelnya mendapatkan satu gelar lagi yaitu sebagai tempat pemandian air panas yang mempunyai volume air terbesar di dunia. Pada tahun 2005 lalu Nishiyama Onsen memang telah menggali sumber air panas yang lebih dalam, sedalam 888 meter, yang menghasilkan air panas sebanyak 1.630 liter per menit.

Nishiyama Onsen Keiunkan didirikan oleh Fujiwara Mahito, anak dari Fujiwara Kamatari, yang konon merupakan teman dekat kaisar Tenji (天智天皇) yang berkuasa pada tahun 661 s/d 671. Wow.

Kamu ada dimana ya pada tahun 600-an?

10 Jul 2011

Amanohashidate, Jembatan Langit

Amanohashidate, Jembatan Langit


Amanohashidate adalah salah satu dari 3 tempat pemandangan yang paling terkenal di Jepang (atau biasa disebut sebagai "Three Views of Japan" / "Nihon Sankei").


Amanohashidate, Jepang

Amanohashidate, Jepang


Terletak di teluk Miyazu bagian utara prefektur Kyoto, Amanohashidate yang berbentuk pasir pantai sepanjang 3,6 km dan dipenuhi dengan 8000 pohon pinus ini memang menjadi salah satu tempat pilihan utama para turis mancanegara untuk dikunjungi.

Menurut buku kuno "Ko-Fudoki", sebuah tangga diciptakan oleh dewa Izanagi-no-Mikoto agar dia bisa bolak-balik langit dan bumi sesuka hati, tepatnya menuju Manaihara di utara pantai Kushibi dimana Izanami-no-Mikoto (istrinya Izanagi) biasa istirahat. Dia menamakan tangga ini Amanoukihashi.

Suatu hari ketika Izanagi tidur di bumi, Amanoukihashi jatuh ke tanah. Akibatnya tangga yang tadinya menghubungkan para dewa di langit dan orang-orang di bumi hilang dan Izanagi pun gagal kembali ke langit.

Itulah mengapa kemudian area pasir yang memanjang ini disebut Amanohashidate yang berarti "jembatan langit."

Untuk melihat "jembatan" ini, kamu harus membungkukkan badan kamu dan melihat pemandangannya secara terbalik dengan kepala diantara kaki. Begini pemandangannya kalo kamu liat terbalik...

Amanohashidate, Jepang

Amanohashidate, Jepang


Orang-orang sudah melakukan ini (melihat secara terbalik) sejak ratusan tahun yang lalu, mulai dari penduduk asli sampe para turis yang merasa penasaran. Apa kamu bisa lihat jembatan yang menghubungkan bumi dengan langit di foto atas?

Matsushima, Teluk Para Dewa

Matsushima, Teluk Para Dewa


Matsushima adalah salah satu dari 3 tempat pemandangan yang paling terkenal di Jepang (atau biasa disebut sebagai "Three Views of Japan" / "Nihon Sankei").

Selama berabad-abad lamanya, teluk Matsushima telah dikenal oleh orang Jepang sebagai tempatnya para dewa bersinggah. Dikelilingi lebih dari 260 pulau kecil yang dipenuhi oleh ribuan pohon pinus, siapa yang tidak terkesima olehnya?


Matsushima Jepang

Matsushima Jepang

Matsushima Jepang


Dengan laut biru yang indah, pemandangan yang luas megah namun tenang bersahaja telah digunakan oleh banyak artis dan seniman sebagai tema untuk penulisan Waka (puisi tradisional Jepang) dan Haiku (puisi tradisional Jepang yang terdiri dari 17 suku kata) sejak zaman Nara.

Matsushima Toro Nagashi Hanabi Taikai adalah nama sebuah festival lentera dan kembang api yang diadakan di teluk Matsushima setiap bulan Agustus dimana lebih dari 8.000 kembang api diluncurkan ke langit, sementara ratusan lentera bercahaya menghiasi teluk dari sore hingga malam hari dengan suasana cantik nan magis.


Matsushima Jepang

Matsushima Jepang

Matsushima Jepang

Torii, Gerbang Kuil Itsukushima

Torii, Gerbang Kuil Itsukushima


Torii, gerbang kuil Itsukushima, adalah salah satu dari 3 tempat pemandangan yang paling terkenal di Jepang (atau biasa disebut sebagai "Three Views of Japan" / "Nihon Sankei").

Torii, Gerbang Kuil Itsukushima, Jepang

Kuil Itsukushima yang berada di pulau Itsukushima ini didirikan pada tahun 1168. Kuil ini didedikasikan untuk tiga putri Susano-o no Mikoto, dewa laut dan badai yang juga merupakan saudara dari dewa matahari, Amaterasu.

Untuk menjaga kesucian kuil, orang-orang tidak diperbolehkan masuk secara sembarangan ke pulau tersebut. Kuil Itsukushima dibangun diatas air seperti layaknya dermaga, sehingga tampak mengapung dan terpisah dari tanah. Mengapa? Karena air dianggap elemen yang suci, sedangkan tanah dianggap sebagai elemen yang kotor atau kasar.

Saking pentingnya dalam mempertahankan kesucian kuil Itsukushima, pada tahun 1878 para biksu mulai melarang wanita yang sedang mengandung (hamil tua) dan orang tua yang sudah sangat rentan untuk masuk ke kuil ini. Mereka bilang tidak boleh ada kematian atau kelahiran di dekat kuil Itsukushima. Peraturan ini masih berlaku sampai sekarang.

Kuil Itsukushima, Jepang

Gerbang pintu masuk kuil Itsukushima (yang kita sebut torii) juga dibangun diatas air dengan alasan yang sama, yaitu memisahkannya dari tanah. Torii dianggap sebagai batas pemisah antara dunia yang suci dengan dunia yang penuh dengan dosa, sehingga orang-orang harus mengarahkan perahu mereka melalui torii sebelum mereka bisa mendekati kuil.

Didirikan pada tahun 1875, gerbang dengan tinggi 16 meter ini terlihat kecil dari kejauhan. Tapi jika air laut sedang surut, kita bisa jalan kaki untuk melihatnya dari dekat dan bersiaplah untuk tercengang.

Torii, Gerbang Kuil Itsukushima, Jepang

Torii, Gerbang Kuil Itsukushima, Jepang

Torii, Gerbang Kuil Itsukushima pada malam hari

Menurut kepercayaan, kalau kamu menaruh koin diantara kaki-kaki Torii lalu mengucapkan apa yang kamu minta di dalam hati, maka permintaanmu akan terkabul.

Tiga Pemandangan Jepang" atau Nihon Sankei (日本三景).

Tiga Pemandangan Jepang / Nihon Sankei


Jepang memiliki banyak tempat yang sangat indah, tapi hanya ada 3 yang tampaknya sangat dibanggakan oleh masyarakat Jepang. Ketiga tempat ini disebut sebagai "Tiga Pemandangan Jepang" atau Nihon Sankei (日本三景).

Tiga Pemandangan Jepang / Nihon Sankei

Mereka adalah...

1. Matsushima (松島)

2. Amanohashidate (天橋立)

3. Torii (鳥居)

Klik link-nya untuk membaca postingan mengenai masing-masing tempat tersebut.

Lalu bagaimana ceritanya sampai tempat-tempat tersebut terpilih? Semasa periode Edo, seorang guru besar yang bernama Shunsai Hayashi (21 Juli 1618 - 1 Juni 1688) menulis sebuah buku berdasarkan pengalamannya sewaktu ia melakukan perjalanan ke seluruh Jepang dengan berjalan kaki.

Dalam bukunya, "Nihon Kokujisekikou" ("Pengamatan Tentang Peninggalan Jepang"), ia memuji tiga lokasi yang menurutnya paling indah di seluruh Jepang. Keindahan dari ketiga situs ini telah mengilhami banyak penyair, penulis dan seniman untuk mengabadikan pesona mereka yang indah.

Penilaian Shunsai Hayashi ini kemudian diterima oleh masyarakat Jepang secara luas.

18 Apr 2011

Hachikō

Hachikō

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Hachiko)
Langsung ke: navigasi, cari
Hachikō
Hachikō di usia senja
Spesies Anjing
Ras Akita Inu
Jenis kelamin Jantan
Lahir 10 November 1923
Dekat kota Ōdate, Prefektur Akita
Mati 8 Maret 1935 (umur 12 tahun)
Shibuya, Tokyo
Makam Museum Sains Nasional Jepang di Ueno, Tokyo.
Pemilik Hidesaburō Ueno
Warna Putih

Hachikō (ハチ公?) (10 November 1923-8 Maret 1935) adalah seekor anjing jantan jenis Akita Inu kelahiran Ōdate, Prefektur Akita. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikan. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukan baginya adalah Hachikō Anjing yang Setia (忠犬ハチ公 Chūken Hachikō?). Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya telah menjadi salah satu marka tanah di Shibuya. Sewaktu membuat janji untuk bertemu di Shibuya, orang sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachikō.

Kisah hidup

Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.

Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.

Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.

Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.

Opset tubuh Hachikō di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Tokyo
Tempat pemakaman Profesor Ueno dan Hachikō

Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.

Patung Hachikō di depan Stasiun Ōdate

Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).

Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.

Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.

Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.